“Hidup Di dunia Hanya Sementara”

Kenapa takut Mati”

\Mati adalah sesuatu yang misteri, yang sulit untuk di ungkapkan atau di jabarkan, karena siapapun tidak akan tahu dan kapan kematian itu akan tiba serta bagaimana keberadaannya setelah mati ?, namun demikian mati akan tetap datang kepada kita dalam waktu yang tak terduga, karena setiap sesuatu mempunyai batas waktu yang tertentu termasuk Umat Manusia.
Berbicara tentang kematian bukanlah hal yang mudah, sebab disamping pengetahuan manusia tentang mati tersebut sangatlah terbatas, juga karena terkadang kesedihan dan ketakutan sering meliputi dan menghantui situasi perasaan setiap pembicaranya.
Pada umumnya manusia selalu sedih menghadapi kematian karena ia akan berpisah dengan hal-hal atau orang-orang yang dicintainya, setiap manusia mempunyai keinginan untuk hidup selamanya. “aku ingin hidup seribu tahun lagi” dalam puisi Chairil Anwar. “Salah seorang diantara mereka berkeinginan untuk dihidupkan seribu tahun” kata Allah SWT dalam Al-Qur’an.
manusia tentang kematian seperti yang tergambar di atas, berbagai upaya dan nasehat telah disampaikan kepada manusia demi untuk mengurangi rasa kesedihan dan ketakutan pada mati tersebut. Sartre seorang filosof Prancis kontemporer, mengingatkan tentang dua hal yang mungkin dapat meringankan rasa takut pada mati:
1. Bahwa mati adalah merupakan sebuah resiko dari kehidupan, dan karenanya tidak ada seorang pun yang hidup kecuali ia juga akan mati.
2. Semakin banyak orang yang disentuh kematian, maka semakin ringan pula sentuhannya di hati mereka karena malapetaka kematian akan menyentuh setiap orang, karenanya ia seharusnya tidak menimbulkan kesedihan dan ketakutan yang berlarut-larut.
Semua yang dikemukakan di atas benar adanya karena Allah sendiri telah memperingatkan dalam Al-Quran. “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian”.
Seorang ulama bernama Al-Raghib Al-Isfihany menulis : “Kematian merupakan tangga menuju kebahagiaan abadi, ia merupakan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga dengan demikian ia merupakan kelahiran baru bagi manusia (Reinkarnasi)”.
Para ulama sering mengumpamakan bahwa seorang akan merasa segan, dan khawatir bahkan merasa takut untuk meninggalkan rumah atau kampungnya apabila ia merasa bahwa rumah atau kampung halaman yang ia tuju lebih sempit atau lebih jelek di banding dengan rumah atau kampung halaman sebelumnya. Tetapi bila sebaliknya ia akan dengan senang hati bahkan sangat mengharap untuk secepatnya datang menuju rumah atau kampung halaman baru tersebut, maka demikian pulalah halnya dengan masalah kematian.
Di sisi lain kematian adalah merupakan suatu nikmat bagi sebagian manusia yang lain, kalau tidak manalah mungkin seperti orang-orang sholeh atau sufi umpamanya, selalu mengharap mati, karena ia sadar mati menurut mereka adalah satu-satunya jembatan yang akan mengantarkan dan mempertemukan dia dengan kekasihnya yaitu Allah, bahkan tidak jarang kita menemukan orang-orang yang beriman dan sholeh mati dalam keadaan tenang bahkan tersenyum simpul bahagia karena mereka telah melihat bahkan merasakan apa yang dijanjikan oleh Allah.
Husen Bin Manshur Al-Hallaj, salah seorang tokoh sufi kontroversial pencetus teori AL-HULUL (menjelmanya Tuhan dalam bentuk manusia) di saat detik-detik kematiannya dalam tiang pancungan dengan keadaan yang sangat menyedihkan dan mengharukan karena mukanya hancur sebab dipukul dengan punggung pedang oleh seorang algojo dan darah bercucuran dan berhamburan ke tanah, betapapun demikian ia tidak merintih atau menjerit kesakitan, dalam keadaan seperti itu ia berkata dalam syairnya:
طلبت المستقـر بكل أرض # فلـم أرى لي بأرض مستـقـر
عطعـت مطمعي فستعبد تني # ولو أني قنعـت لكـنـت حرا
Telah kucari tempat yang tenang dan tentram
Di setiap penjuru bumi ini,
Maka mengertilah aku
Bahwa sebenarnya bukan di bumi tempat yang tenang dan tentram
Kucoba mengikuti semua kehendak mauku
Tapi malah justru aku diperbudaknya
Andaikan ……….
Aku mau menerima apa adanya
Sebenarnya aku sudah merdeka “
Kemudian ia berkata :
لا أسلم النفس للأسقام تتـلفها # إلا لعلم لإن بأن الموت يشفيها
ونظرة منـك يا سؤلي ويا أملي # أشهـى إلي من الدنيا وما فيها
نفس المـحب على الألم صبرة # لعــل متـلفها يوما يداويها
Tak akan aku serahkan jiwa ragaku pada kesakitan yang akan merusaknya
Hanyalah karena aku tahu, bahwa kematianlah yang akan menyembuhkannya
Sekilas pandang darimu, wahai tempat aku bermohon.
Dan himpunan cita-citaku
Adalah lebih nyaman bagiku dibanding dunia dengan isinya
Jiwa yang sedang diselubung cinta akan sabar dirantai derita kesakitan
Semoga yang menjemputnya hari ini
Dia juga yang akan mengobatinya “
Jika demikian, mengapa kita takut mati? padahal mati adalah suatu nikmat dari sisi lain hidup ini, karena kematianlah yang akan membebaskan dan menyembuhkan kita dari derita dunia ini dan mati pulalah yang akan mengantarkan kita pada yang kita cintai.
Kita semua akan mati, tapi bagaimana agar kematian itu tidak menjadi hal yang menakutkan bagi kita, tapi justru merupakan nikmat yang selalu kita harapkan kedatangannya.
Bersihkannlah hati, kurangi dosa dan hilangkan rasa cinta yang berlebihan pada dunia niscaya kita akan selalu siap menghadapi jemputan maut dalam setiap saat dan dengan Khusnul Khotimah
By: Fathul Bary dari segala sumber
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s